Mengolah Sampah

Ada banyak cara mengatasi persoalan lingkungan yang ada disekitar kita, mulai dari yang mengolah sampah, menggunakan bahan atau material yang ramah lingkungan, menghemat energi. Tetapi hal itu kebanyakan dilakukan oleh orang dewasa, lalu bagaimana dengan anak muda.

Dalam Konferensi Anak-anak dan Pemuda Internasional Tunza, yang diselenggarakan di Bandung, banyak anak muda mengungkapkan gagasannya untuk atasi persolan lingkungan. Tidak hanya sebatas gagasan namun mereka juga langsung bertindak nyata melalui cara yang mereka percaya bisa membantu meningkatkan kepedulian kepada lingkungan.

Seperti halnya para pemuda asal Brazil, yang mengolah limbah industri berupa bubuk marmer menjadi batu bata yang ramah lingkungan.

“Idenya untuk mentransformasi sampah kota dan industri” kata Daniel Isfer Zardo (25), dari Badan Inovasi dan Keberlanjutan Brazil, dalam presentasinya di Konferensi Tunza kepada wartawan di Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung Jawa Barat.

Pemuda lulusan teknik lingkungan dari Pontific Catholic University of Parana Brazil itu mengutarakan, sampah industri berupa bubuk marmer dibuat sebagai bahan baku batu bata, sebagai bahan bangunan, yang lazim disebut batu bata ramah lingkungan (ecological bricks).

“Batu bata biasa memerlukan sembilan pohon untuk membangun rumah tetapi dengan batu bata bubuk marmer ini kita tak perlu menggunakan kayu sedikitpun,” ujarnya.

Zardo juga mengusung ide pembuatan atap hijau dari tumbuhan. Atap hijau itu tersusun atas beberapa lapisan seperti plat kayu datar sebagai media utama, tanah, dan tumbuhan sebagai peneduh di atasnya. “Atap hijau ini kuat digunakan selama 20 tahun,” katanya.

Maria Angelica Reyes (20), remaja asal Batangas, Filipina, yang tergabung dalam komunitas you and Earth ini mengusung kepedulian lingkungan melalui seni dan media.

“Jejaring sosial semacam Facebook, twitter, dan YouTube merupakan media yang ampuh untuk mempromosikan kepedulian lingkungan” tuturnya.

Ia mengungkapkan bahwa banyak anak muda yang mudah menerima pesan kepedulian lingkungan melalui karya seni seperti musik, video, atau pembuatan patung hingga celengan dari sampah botol plastik.

Guna mempromosikan keinginannya itu Reyes membuat video kartun yang unik dan berbagai patung dari sampah.

Menurut dia, akar utama persoalan lingkungan dunia saat ini bukanlah masalah dari perubahan iklim atau bencana. “Melainkan disiplin dari manusianya yang mau bersikap bijak yang selaras dengan prinsip kearifan lokal,” kata Reyes.

Sementara itu, Indah Kartika (22), mahasiswi ITB juga tak kalah hebat dari kedua rekan sesama remajanya dalam hal mengajak guna meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Selaku warga kota semacam Bandung, rupanya ia mulai terpanggil juga untuk mengatasi kemacetan yang ada di kota besar seperti Bandung. “Sekitar 50 persen polusi di jalanan Bandung itu berasal dari kendaraan pribadi,” katanya. (Ant/ICH))

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: